6/05/2011

Ketika Tuhan Menjawab "Tunggu"

   Ketika saya berada di kondisi lemah dan bisa dibilang hampir putus asa dan saya membutuhkan "sesuatu". Ya, saya membutuhkan "sesuatu", saya membutuhkannya sekarang juga, hari ini dan detik ini juga. Tapi "sesuatu" itu tak kunjung ada dan saya tetap menantinya. Tapi sampai kapan saya menantinya? Sementara saya sudah hampir putus asa? Hmmm....

   Tapi, bukankah saya mempunyai Tuhan sebagai sumber pengharapan saya? Saya berdoa kepada Sang Pencipta, memohon agar diberikan "sesuatu" itu, tiap saat di setiap doa saya saya pasti memohon agar diberikan. Dan jawaban Tuhan sampai saat ini adalah "tunggu". Ya, saya akan tetap menunggu Tuhan, saya akan tetap menunggunya, saya akan bersabar. Bukankah sesuatu itu akan indah pada waktunya? Ya, Engkau akan memberikan segala sesuatu itu tepat pada waktunya dan tisak pernah meleset. Semoga saya mampu melewati semua tantangan ini :)

Ps:
Ada tiga jawaban Tuhan: Ya, Tidak, Tunggu. Saat menantikan jawaban doa mengucap syukurlah senantiasa sebab rencanaNya selalu indah bagi kita. GBus

5/29/2011

Mengampuni Memaafkan dan Melupakan

  Setiap orang yang pernah terluka hatinya pasti akan mempunyai perasaan marah, sakit hati, dendam, benci, kecewa, dan lain-lain. Bagaimana kita mampu mengatasi semua perasaan itu kalau kita selalu mengingat bagaimana seseorang telah mengecewakan dan menyakiti hati kita? Apa yang harus dilakukan untuk memaafkannya dan melupakannya? Di saat menangis karena hati terluka, bisakah kita menahan emosi untuk tidak meluapkannya pada orang yang menyakiti hati kita?

   Hati bisa kita umpamakan seperti gelas kaca yang harus selalu dijaga, dipegang hati-hati agar tidak jatuh dan pecah. Tetapi bila gelas kaca itu jatuh dan pecah mungkin perlu usaha ekstra untuk mengumpulkan pecahannya dan memperbaikinya kembali dengan segala cara agar terlihat sempurna. Teman, sesempurna apapun usaha yang kita lakukan untuk mengembalikan gelas itu utuh kembali, pasti akan tetap terlihat bekas-bekas keretakan yang ada, dan tidak akan pernah kembali utuh dan indah.

   Saya mempunyai seorang teman yang dikecewakan oleh orang lain dan dia sudah memaafkan orang itu tetapi belum bisa melupakan kesalahan yang dibuat temannya itu. Apakah ini bisa dinamakan benar-benar memaafkan? Menurut saya ini tidak bisa di sebut dengan memaafkan. Ketika kita memaafkan seseorang maka kita akan melupakan 100 persen kesalahan yang dibuat orang itu terhadap kita. Kata memaafkan tidak mengenal kata "meskipun". Contohnya seperti ini: "Saya mau berteman denganmu kembali MESKIPUN kamu pernah menyakiti saya." Ketika seseorang mengucapkan kalimat seperti itu itu berarti dia belum bisa melupakan kesalahan yang pernah dibuat orang lain terhadap dirinya. Memaafkan berarti kita sudah melupakan dan tidak akan pernah menyinggung kembali kesalahan yang dibuat oleh orang lain terhadap kita dalam kondisi apapun itu.

   Mengampuni dan melupakan merupakan bagian yang tak terpisahan. Pertimbangkanlah sungguh-sungguh keputusan yang anda ambil hari ini, karena yang bertanggung jawab atas hari esok kita adalah keputusan kita hari ini. Melupakan adalah proses dari mengampuni, jadi tidak mungkin kita mengampuni tapi tidak melupakan. Melupakan memang butuh proses,  proses melupakan bisa kita umpamakan dengan bekas luka. Kalau tangan kita teriris pisau, pasti sakit dan menimbulkan luka. Ketika dalam proses penyembuhan kita tekan luka tersebut pasti akan mengeluarkan darah lagi. Tapi kalau sudah kering dan sembuh benar, kemudian kita tekan bekas luka tersebut apakah masih berdarah ? Tentu tidak

   Demikian pula dalam proses melupakan. Mungkin anda masih ingat dan tahu perbuatan "dia" terhadap "anda" tetapi ketika "anda" mengingat lagi perbuatan "dia" atas "anda" apakah anda masih marah / sinis / sakit hati / bahkan dendam? Kalau iya berarti "anda" belum melupakan kesalahan "dia" (ibarat luka kalo ditekan masih berdarah). Tetapi jika 'anda" mengingat perbuatan "dia" namun tidak ada rasa marah, sinis, sakit hati atau dendam, maka berarti "anda" sudah melupakan. Bekas tetap ada, tapi tidak berdarah lagi.

   Sudahkan anda meminta maaf kepada orang yang anda kecewakan/sakiti? Atau sudahkan anda memberikan maaf dan melupakan kesalahan orang yang pernah mengecewakan anda? Kalau belum segera lakukan sekarang sebelum anda kehilangan orang itu selamanya. Semoga bermanfaat!

Menjaga Perasaan Tidak Kecewa Karena Orang Lain

   Apakah Anda pernah merasa dikecewakan oleh orang lain? Pasti tidak enak ya, apalagi jika yang mengecewakan itu adalah orang yang kita percayai. Orang yang dikira baik ternyata dibelakang tidak seperti yang kita kira. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita benar-benar ‘dikecewakan’ ataukah kita hanya ‘merasa’ dikecewakan oleh orang itu? Jangan-jangan sebenarnya mereka tidak mengecewakan kita, tetapi kitalah yang merespon apa yang mereka lakukan itu sebagai suatu kekecewaan, lho?
 
   Jika Anda pernah kecewa, tentu Anda tahu betapa melelahkannya perasaan itu. Kebahagiaan kita terrenggut, waktu tidur kita berkurang, air mata kita terkuras. Perasaan hati kita juga menjadi gundah dan gelisah. Maka dari itu, jangan terlalu lama membiarkan kekecewaan menguasai diri kita. Untuk itu, saya ingin mengajak Anda untuk sama-sama menyimak 5 hal yang bisa membantu memerdekakan jiwa kita dari kekecewaan.  Berikut ini uraiannya.
 
1. Mengakui bahwa diri kita tidak sempurna 
Apabila orang lain berkomentar negatif tentang diri Anda, atau menggunjingkan kekurangan-kekurangan diri Anda, maka Anda tidak perlu kecewa. Terima saja, meskipun belum tentu yang mereka gunjingkan itu benar. Bersyukurlah jika ada orang yang bersedia menunjukkan ketidaksempurnaan Anda. Jika mereka salah, maka itu akan menjadi tambahan pahala bagi Anda. Tapi jika mereka benar, maka itu merupakan proses penyadaran untuk memperbaiki ketidaksempurnaan yang ada pada diri Anda. Semoga dengan begitu kita bisa terus memperbaiki diri. Meski tidak mudah, Insya Allah ada jalan untuk perbaikan selama kita berusaha.   
 
2. Menyadari bahwa orang lain juga tidak sempurna
Rasa kecewa sering kali disebabkan oleh penilaian yang terlalu tinggi kepada seseorang. “Kalau orang lain yang melakukannya aku masih bisa ngerti. Tapi, kok bisa-bisanya sih dia melakukan itu?” Begitu kan kita sering berkata saat kecewa? Siapapun dia hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat salah atau dosa. Jika kita tidak sempurna, dia juga sama. Jadi sudah, relakan saja. Dia hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Wajar jika dia melakukan sesuatu yang mengecewakan. Tidak usah diperpanjang karena kita sudah tahu betapa tidak sempurnanya dia.
 
3.  Menerima kenyataan bahwa lidah tidak selalu sejalan dengan hati
Banyak orang yang kecewa kepada orang lain karena dia mengira bahwa apa yang dikatakan orang itu pastinya sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Padahal, tidak semua orang mengucapkan kata-kata yang sejalan dengan isi hatinya. Jika Anda sudah menyadari hal itu, maka Anda tidak akan terlalu kecewa saat mendapati perilaku seseorang yang bertolak belakang dengan ucapannya. Anda juga tidak akan terlalu kecewa kalau ada yang memuji Anda didepan, tetapi menjelek-jelekkan Anda dibelakang. Jika ada yang menjanjikan sesuatu kepada Anda tapi tidak kunjung diwujudkan; Anda juga tidak akan kecewa. Mengapa? Karena Anda sudah tahu bahwa lidah tidak selalu sejalan dengan hati. Jadi, tidak perlu heran. Enjoy aja….
 
4. Ingatlah bahwa Anda adalah pengendali diri Anda sendiri
Jika orang lain berusaha mengecewakan Anda, tetapi Anda sendiri tidak merasa kecewa; kira-kira dia berhasil membuat Anda kecewa atau tidak? Jelas sekali ya, bahwa yang menentukan apakah kita kecewa atau tidak itu bukan perlakuan orang lain kepada kita. Melainkan sikap yang kita ambil sendiri. Jika ada orang yang berusaha mengecewakan kita, biarkan saja. Sebab selama kita memilih tidak kecewa, maka kita akan baik-baik saja. Bersyukurlah karena Tuhan telah memberi kita kekuatan untuk mengambil kendali kepada diri kita sendiri. Selama Anda memegang kendali itu, tidak seorang pun bisa menjatuhkan jiwa Anda.
 
5.Meyakini bahwa segala sesuatunya tertera dalam catatan Tuhan
Selama Anda masih punya keyakinan kepada Tuhan, percaya deh semuanya akan baik-baik saja. Perkataan orang yang menjatuhkan Anda. Perbuatan orang yang merugikan Anda. Fitnahan, gunjingan, dan berita yang mengada-ada tercatat lengkap dalam buku yang dipegang terus oleh malaikat di kiri dan kanan. Kita tidak perlu ambil pusing soal semua itu, apalagi harus membalas dendam. Percayalah, bahwa Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak pernah lengah.
 
Sudahlah, tidak usah kecewa lagi. Sayang energy kita terbuang percuma, mendingan   berserah diri saja kepada yang Maha Kuasa dengan keikhlasan dalam menerimanya.  Siapa tahu dengan begitu kita semakin disayang oleh Tuhan.
 
Mari Berbagi Semangat!



Tks to: Dadang Kadarusman

4/14/2011

Gaji Besar atau Kenyamanan Kerja?

   Mana yang anda pilih bergaji besar tapi tidak ada kenyamanan dalam bekerja atau bergaji pas-pasan tapi anda berada dalam lingkungan pekerjaan yang sangat nyaman dan orang-orang di dalamnya tidak bisa diajak kerjasama? Tidak munafik, anda atau saya sebagai seorang karyawan pasti menginginkan gaji yang besar dan lingkungan pekerjaan yang nyaman, tetapi terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam sebuah organisasi / perusahaan pasti ada persaingan bagaimana agar eksistensi kita diakui oleh orang lain terutama atasan kita, tapi terkadang untuk menunjukkan eksistensinya banyak karyawan yang bersaing tidak sehat, saling menjatuhkan citra orang lain, saling sikut atau bahkan mencemarkan nama baik rekan kerjanya di hadapan orang lain dan bosnya.

   Hal itu mungkin sering kita temui dalam sebuah perusahaan. Menurut saya pribadi untuk bisa dihargai oleh orang lain dengan kata lain agar prestasi kita bisa diakui orang lain tidak perlu menghalalkan segala cara. Bersainglah secara sehat dengan rekan kerja yang lain, tidak perlu saling sikut, saling menjatuhkan atau mencemarkan nama baik rekan kerja kita dihadapan orang lain. Gaji besar memang sangat menggiurkan, tetapi ketika kondisi lingkungan pekerjaan kita sudah tidak nyaman, maka untuk berangkat kerja dari rumah saja sudah malas. Dalam sebuah pekerjaan pasti kita membutuhkan sebuah lingkungan pekerjaan yang kondusif dimana orang-orang di dalamnya kooperatif, nyaman sehingga membuat kita menjadi semangat untuk bekerja.

   Tetapi jika anda sudah terlanjur berada di dalam sebuah lingkungan pekerjaan dengan gaji yang besar tetapi tidak menemukan kenyamanan di dalamnya apa yang akan anda lakukan? Pilihannya ada di tangan anda dan menurut saya hanya ada dua pilihan:

1. Anda tetap berada di pekerjaan sekarang dengan catatan anda mampu menghadapi setiap tekanan yang diberikan kepada anda atau dengan kata lain anda harus pintar me manage sisi emosional diri anda bagaimana agar tekanan itu tidak membuat anda "down".

2. Keluar dari perusahaan anda sekarang dan anda mencari peluang di tempat lain dimana anda bisa menemukan yang anda cari yakni kenyamanan dalam bekerja baik itu dalam hal teman kerja, kondisi dan lain-lainnya.

   Saya melihat teman saya, baik itu yang bekerja di perusahaan yang sama dengan saya maupun yang bekerja di perusahaan lain tentang perlakuan yang mereka dapat di tempat mereka bekerja. Terkadang di antara mereka harus melakukan pekerjaan "overload" atau bahkan mereka harus melakukan pekerjaan di luar jobdes mereka sendiri, tapi karena  tidak bisa melawan maka mau tidak mau mereka harus tetap mengerjakan pekerjaan yang dibebankan ke mereka itu. Ketika saya sarankan agar mereka pindah kerja ternyata mereka tidak punya nyali untuk itu. Mereka takut akan menganggur dan mereka perlu memastikan dapat dulu penggantinya baru bisa keluar dari perusahaan tempat mereka bekerja sekarang.

   Tetapi apapun itu, menurut saya pribadi di setiap pekerjaan pasti ada tekanan, tergantung dari diri kita pribadi bagaimana kita bisa me-manage diri kita sendiri jangan sampai kita stress di lingkungan pekerjaan kita sendiri. Tapi kl tekanan itu sudah parah bahkan sampai-sampai anda sudah tidak ada semangat untuk berangkat kerja dari rumah karena anda tidak menemukan kenyamanan, maka anda harus memikirkan untuk mencari peluang di tempat lain. Gaji bukan faktor utama yang harus dicermati ketika Anda masuk ke tempat kerja baru, kenali terlebih dahulu suasana kerja atau budaya perusahaan tersebut, kemudian cocokkah dengan diri Anda apakan cocok atau tidak. Jangan sampai ketika sudah mengorbankan pekerjaan lama, anda malah tak betah ditempat ini yang ada hanyalah penyesalan saja.
Ingat kenyamanan kerja bukan hanya datang dari faktor eksternal saja, tapi juga dapat diciptakan dari dalam diri kita masing-masing. Ubah cara pandang dan persepsi anda tentang sebuah masalah.

3/14/2011

You Do Not Know When The Time Will Come

    Saya masih teringat kata-kata teman saya begini : "Buat apa sih kamu bela-belain ikut aturan ini-itu, patuh sama ini itu, beribadah? Apa untungnya sih buat kamu? Sudahlah kamu itu masih muda, nikmatin aja dulu hidup selagi masih muda, have fun, foya-foya nah ntar kalau sudah tua baru deh bertobat". Hmm sungguh saya tertegun mendengar kata-kata itu, dirasuki apa teman saya ini sampai bisa berpikiran seperti itu? Apa kesenangan duniawi sudah menguasai pikirannya sampai tidak bisa berpikir mana yang benar mana yang salah? Atau kesenangan duniawi sudah membuat dia kehilangan akal sehat?

   Teman, mungkin di antara kamu ada yang berpikiran sama dengan teman saya ini "selagi masih muda bersenang-senang aja dulu, baru ntar pas sudah tua bertobat". Saya hanya mau bertanya seperti ini: " Kalau misalkan kamu tidak diijinkan sama Tuhan sampai di umur yang tua bagaimana?". Atau kasar nya begini kamu meninggal di usia muda, di saat kamu tidak sempat untuk bertobat bagaimana? Teman, kita tidak tau umur kita, tidak ada seorang pun yang tau. Mungkin dokter bisa tahu, tapi omongan dokter itu bisa saja meleset. Hanya Tuhan yang tau pasti berapa lama kita tinggal di dunia yang fana ini. Jadi apakah kata-kata itu masih bisa kita pegang. Menurut saya tidak!

   Mungkin kamu adalah tipikal orang yang suka bersenang-senang, memuja-muja kesenangan duniawi memang itu hak setiap orang. Semua orang berhak menentukan kemana dia melangkah. Ada beberapa orang yang mati muda, meninggal karena kecelakaan, sakit-penyakit dan mereka belum sempat melakukan yang terbaik dalam hidup mereka. Memang benar hidup di dunia ini hanya satu lagi, nikmatilah hidup ini selagi kamu masih hidup. Tapi dalam hal ini bukan berarti kamu bebas menikmati hidup yang negatif, lakukan lah hal-hal positif dalam hidupmu. Jangan sampai penyesalan datang di akhir.

   Teman, waktu itu seperti anak panah yang melesat kencang. Kamu tidak akan mampu untuk menghentikan atau melambatkannya. Selama waktu masih tersisa tak perlu ragu untuk menikmati kehadiran anda di dunia ini. Ketika kamu menyadari betapa berharganya itu semua kamu pun menyadari betapa berharganya kamu yang mungil ini di alam yang maha luas ini. Kehadiran kamu adalah bagian dari alam ini, maka hiduplah dengan hal-hal positif, Menikmati hidup dengan wajar dan selalu bersyukur menjadikan kehidupan dan hari-hari senantiasa penuh makna dan selalu indah, patuh sama aturan Ilahi niscaya kamu akan beroleh keselamatan.

God bless u all